Pilu dan Waktu

Setiap orang mungkin punya definisi berbeda atas kata 'pilu'. Namun, berbeda dengan setiap orang, saya tidak punya definisi pilu. Saya tidak benar-benar tahu pilu itu artinya apa. Saya tidak paham-paham banget makna pilu itu apa.

Saya hanya tahu pilu itu rasanya seperti apa.

Suatu hari, saya iseng buka-buka facebook dan lihat-lihat timeline-nya. Luar biasa, di sana berhamburan teman dan kenalan yang lagi asyik berbagi cerita hidup. Ada yang jalan-jalan, ikut seminar, sekolah lagi, berkeluarga, jualan, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya.

Saya kadang bingung harus menanggapi apa. Lantaran saya sudah lama tidak berhubungan dengan mereka-mereka itu. Saya mikir begini: enggak berhubungan selama bertahun-tahun dengan mereka, apakah kita masih berteman? 

Saya lihat di friend list saya, ada sekitar 800 teman! Ha-ha-ha-ha. Saya sendiri bingung kenapa bisa sebanyak itu? Yang lebih aneh, bahkan tidak semuanya saya tahu. Seandainya saya tahu, saya tidak pernah menyapa dia. Seandainya saya pernah menyapa dia, saya tidak pernah ngobrol sama dia. Seandainya saya pernah ngobrol sama dia, saya tidak punya nomor hpnya. Seandainya saya punya nomor hpnya, saya sudah tidak pernah ketemu dia. Seandainya saya pernah ketemu dia, saya sudah tidak saling berkabar dengannya. Begitu.

Saya tidak pernah buka-buka kamus untuk nge-check apa sih arti kata pilu? Tapi mungkin itu definisi pilu: punya 800an teman fesbuk--tidak saling berkabar lagi.

Rasa pilu itu tidak enak. Tapi tidak sebegitu pahitnya. Kalau kita ibaratkan dengan mata pisau dengan tubuh kita: mata pisau mengiris ujung jari kita sedikit saja. Kita terluka sedikit dan darahnya pun  enggak banyak-banyak amat. Betadine atau Hansaplast cuma pilihan saja: bukan kewajiban.

Rasa pilu bukan seperti rasa sekarat karena dikhianati orang yang paling dekat: mata pisau menembus kulit, daging dan nyaris merobek pembuluh darah kita. Untungnya cuma nyaris. Jadi, kita tidak sampai mati. Tapi kita sekarat, dan rasa sekarat itu lebih jauh dari rasa sakit.

Saya sendiri bingung kenapa bisa sebegitunya. Punya teman facebook banyak tapi tidak bertukar kabar. Apa yang salah dengan diri saya? Salahkah saya yang tidak menanyakan kabar dia? Salah ia yang tidak pernah tanya kabar saya? Salahkah kita berdua? Salahkah saya dan dia? Saya dan mereka?

Saat ini, alih-alih cari tahu siapa yang salah, lebih baik cari apa sebabnya. Saya merasa memang bukan karena salah siapa-siapa. Kalau cari sebabnya, sebab pertama, mungkin karena sama-sama sibuk. Sebab kedua, karena tidak saling butuh. Sebab ketiga... saya jarang buka facebook. Sebab keempat, saya tidak pernah berbagi cerita yang bikin dia tidak punya kesempatan untuk komen atau bertanya. Sebab kelima, saya tidak pernah komen di feeds dia. Sebab keenam, kita tidak saling rindu. Sebab ketujuh, kita tidak paham silaturahmi. Sebab kedelapan, kita sama-sama tidak peduli. Dan sebab yang paling absolut adalah, karena... waktu.

Saya iseng-iseng buka friendlist saya. Rencananya saya mau sortir saja berdasarkan skala rindu. Namun capek juga ya memilih dan memilahnya? Pada akhirnya, saya sortir berdasarkan yang saya tahu saja. Kalau yang betul-betul saya tidak tahu, saya hapus. Jadi, kalau saya tahu meski tidak rindu, saya tetap taruh dia di friendlist saya. Apalagi kalau ada teman (baca:kenalan) yang postingannya menarik. Meski saya tidak rindu, tapi saya senang berteman/berkenalan dengan dia, membaca pikiran dia, dan melihat apa yang sedang dia kerjakan. Meskipun saya (lantaran malu--i have always been an awkward girl) kadang cuma bisa like aja dan enggak/belum ngasih komentar apa-apa. Tapi saya punya niatan dan berdoa, mungkin suatu saat saya dan dia bisa ngobrol dan tukar cerita/ide/pikiran sama dia. Mungkin kelak saya bisa berteman lagi. Walau kemungkinan itu kecil, renik dan super alit. Semua tergantung kebijakan waktu.

Ketika saya memilah-memilah, saya juga melihat beberapa teman yang akun-nya sudah tidak aktif. Beberapa teman yang menghapus akunnya adalah beberapa yang saya cukup rindu. Si pilu mulai terasa lagi.  Tidak maukah dia berbagi lagi? Tidak maukah ia berteman lagi? Kenapa dia seperti itu? Kenapa menghapus akunnya? Apa yang terjadi dengannya? Dan pikiran-pikiran berlebihan muncul. Saya hargai keputusan mereka, dan saya berdoa semoga tetap bisa bertemu dan tukeran cerita lagi.

Saya memang tidak jago berhubungan dengan banyak orang sekaligus. Saya hanya punya beberapa lingkaran pertemanan, dan biasanya tidak sampai berlapis-lapis. Artinya saya tidak punya banyak teman. Saya main dan nongkrong sama si itu itu aja. Keep in touch dengan semua teman tetap susah dilakukan meski saya dan mereka terhubung media sosial. Meskipun saya sejujurnya tidak pengin pilah-pilih dalam berteman, tapi menjadi dekat dan bisa terus berhubungan dengan seorang teman itu ternyata juga butuh chemistry dan waktu. Mustahil dipaksa.

Saya pernah memutuskan secara sepihak hubungan dengan teman. Di era sekarang: selain tidak lagi bertemu dengannya, salah satu cara memutuskan hubungan adalah tidak berhubungan dari semua (lini) sosial muda.  Saya tidak ingin sebenarnya, tapi banyak alasan yang memungkinkan itu terjadi. Tuhan mungkin benci saya karena itu. Kadang, ada rasa sedikit nyesel/sedih/kangen sih karena itu. Tapi itu pun sudah saya timang-timang sedemikian rupa. Saya tidak sanggup lagi. Saya tidak mau balik lagi. Saya mohon maaf. Saya berdoa semoga enggak kejadian lagi dan saya dan dia baik-baik aja.

Saya juga kadang skeptis dengan apa yang tampak di sosial media. Ini terjadi karena (dan sayangnya) saya kebetulan menyaksikan beberapa kenalan saya yang nge-post aktivitas-padat-afeksi-palsu. Hanya gimmick semata. Cuma kesan aja. Camouflage. Humbug.

Meskipun demikian, saya masih percaya: tidak-semua (orang)-begitu. Dan mudah-mudahan saya dikelilingi orang yang "tidak-semua-begitu" itu...

Begitu...

Sekali lagi saya dirudung rasa pilu, gara-gara melihat si teman ya sudah berubah, sudah tidak nyambung lagi baik di dunia nyata dan maya. Tapi, apa daya ya kadung sudah memang begitu. Mungkin ini memang siasat Tuhan supaya kita tahu: kita cuma manusia yang dikekang waktu. Kita dibatasi waktu. Setiap orang punya jatah waktu, termasuk waktu bersama dengan kita. Kalau memang waktu kita untuk bersama dengan seseorang itu sudah habis, ya sudah.

Dan kadang, terlalu memikirkan mereka yang sudah tidak punya/terikat waktu dengan kita adalah upaya buang-buang waktu. Cukup jadi ingatan aja. Ingatan yang baik.

Kalau kata Charles Buxton "you will never find time for anything". Termasuk, selalu bisa berhubungan dengan 800 teman/kenalan di akun Facebook kita dalam satu waktu.








Comments

  1. hey, kalau begitu aku lebih pilu karena punya teman facebook sebanyak 2367 orang. Tapi dengan angkuhnya kuanggap 70%-nya adalah fans :)

    ReplyDelete
  2. Semoga kita bukan cuma teman pada waktu itu ya Jak 💘

    ReplyDelete
  3. Semoga kita bukan cuma teman pada waktu itu ya Jak 💘

    ReplyDelete

Post a Comment