"apakah menurutmu mahasiswa baru yang tak pernah membaca buku jenis itu bisa memahaminya?"
"tentu tak mungkin," kataku
"begini.. waktu aku masuk universitas aku menjadi anggota kelompok studi kerakyatan, soalnya aku suka menanyi. tempat itu penuh dengan orang-orang yang sangat licik. sekarang pun kalau mengingatnya jadi ngeri. begitu menjadi anggotanya, pertama-tama kita disuruh mempelajari Marxis. baca di rumah dari halaman sekian sampai sekian, katanya. pernah di antara mereka berpidato, katanya, lagu rakyat itu harus berhubungan erat dengan persoalan masyarakat... lalu apa boleh buat aku pun mempelajari Marxis dengan tekun di rumah. tapi samasekali aku tak bisa memahaminya, lebih sulit daripada pola conditional. setelah membaca tiga halaman, aku lempar buku itu. lalu pada pertemuan minggu berikutnya, kukatakan aku membacanya tapi samasekali tak bisa memahaminya. setelah itu aku terus diperlakukan seperti orang goblok. dikatai orang tak punya kesadaran terhadap permasalahan, orang yang kurang rasa sosialnya. jangan bercanda ya, batinku. aku cuma mengatakan, tak dapat memahami kalimat-kalimat saja. bukankah mereka
"Hmmm," gumamku.
"ketika diskusi pun betul-betul menyebalkan. mereka memasang muka seolah memahami segalanya dan menggunakan istilah2 yang sulit. karena tak paham aku sering bertanya. apakah yang dimaksud dengan eksploitasi imperialisme itu, apakah ini ada hubungannya dengan VOC? atau apakah maksud slogan 'Putus Kerjasama antara Industri dengan Universitas' berarti setelah lulus universitas dilarang bekerja?' tapi tak seorang pun mau menjelaskan . malah mereka sangat marah. kamu percaya?"
"aku percaya."
"masa kamu tak paham soal2 seperti itu! apa kamu tak menggunakan otakmu? habislah sudah. tega betul mereka. memang otakku tidak begitu cemerlang. aku hanya rakyat biasa. tapi penopang kehidupan masyarakat itu rakyat biasa, lagipula yang dieksploitasi juga rakyat biasa. mana bisa disebut revolusi kalau mereka hanya menghambur-hamburkan istilah yang tidak dipahami oleh rakyat biasa? apanya yang revolusi sosial! aku juga ingin memperbaiki kehidupan masyarakat . jika ada seseorang yang betul-betul dieksploitasi, kita harus menghentikannya. karena itulah aku bertanya. betul?"
"ya..."
"waktu itu aku berpikir. mereka semua penipu. mereka seenaknya mengumbar istilah2 sulit, lalu merasa diri gagah, dengan cara seperti itu mereka berupaya membuat mahasiswi baru terkagum-kagum. tapi sebenarnya mereka hanya memikirkan bagaimana caranya menggerayangi tubuh perempuan itu saja. begitu naik ke tingkat empat, mereka memendekkan rambut kemudian masuk kerja di perusahaan misubishi di TBS, ibm, atau bank fuji. setelah itu mereka menikah dengan perempuan manis yang samsasekali belum pernah membaca Marxisme, dan memeberi nama yang menyebalkan dan berlebihan pada anak2 mereka. jadi apa makna slogan 'putus kerjasama antara industri dan universitas,' lucu sekali sampai sampai airmataku menitik. mahasiswa baru pun banyak yang menyebalkan. padahal mereka tak mengerti apa apa, tapi pura2 paham, tertawa cengengesan. lalu mereka mengataiku, kamu goblok. meskipun tak paham, mestinya kamu mengatakan ya betul atau ya bagitulah. aku masih punya cerita yang membuatku mangkel, mau dengar?"
"boleh."
"suatu waktu kami akan menghadiri pertemuan politik di malam hari, dan setiap siswi diperintahkan membawa 20 kepal bola nasi untuk makan malam. enak saja, ini diskriminasi jender namanya. tapi untuk mempersmasalahkannya pun sia-sia saja, maka tanpa mengatakan apapun aku membuat 20 kepal bola nasi dan membawanya ke pertemuan itu. aku susupkan buah plum ke dalamnya yang dibungkus dengan rumput laut. lalu, coba tebak apa yang mereka katakan padaku? bola nasi buatan Midori hanya berisi buah plum, tidak ada lauk-pauk lainnya. padahal, katanya, siswi lain ada yang menyisipkan ikan salmon, telur ikan, atau telur goreng ke dalamnya. betul2 menyebalkan sampai aku tak bisa ngomong lagi. kenapa org2 yang membahas revolusi dan semacamnnya harus meributkan bola nasi untuk makan malam? kalau sudah berisi buah plum dan dibungkus rumput laut pula itu sudah cukup. coba pikirkan anak2 india!"
aku tertawa.
"lalu bagaimana jadinya dengan kelompok studi itu?"
"bulan juni aku keluar, karena betul2 kesal," kata midori. "kelompok itu betul2 penipu. mereka hidup dalam kecemasan, mereka takut ketidaktahuan mereka diketahui orang lain. karena itu mereka membaca buku yang sama, mengumbar kata2 yang sama pula. mereka terkagum-kagum kalau mendengar musik john coltrane atau menonton film karya pasolini. apakah yang seperti itu disebut revolusi?"
"bagaimana, ya. aku tak bisa mengatakan apa2 karena aku belum pernah melihat revolusi itu sendiri."
"kalau yang disebut revolusi seperti itu, maka tidak perlu ada revolusi. karena jika hanya dengan menyusupkan buah plum ke dalam bola nasi maka pasti aku ditembak mati. dan kamu pun pasti ditemak mati, karena bisa memahami pola conditional bahasa inggris dengan baik."
"boleh jadi begitu," kataku.
"aku paham betul, karena aku rakyat biasa. mau hanya bisa menjalani kehidupana seadanya di tempat yang tidak nyaman. apanya revolusi? paling-paling hanya terjadi perubahan pada nama kantor pemerintah. tapi mereka samasekali tidak memahami hal itu. orang2 yg hanya mengumbar istilah2 menyebalkan itu pun tak memahaminya. apa kamu pernah berurusan dengan pegawai kantor pajak?"
"belum pernah."
"aku pernah beberapa kali. ia masuk ke toko dengan ponhanya. apa sih buku kas ini; kalian punya usaha yang tidak beres ya?! apa ini betul2 biaya pengeluaran? coba perlihatkan semua kuitansinya! begitu kata mereka. lalu kami mundur ke pojok. jika tiba waktunya makan kami memsankan sushi spesial untuk merkea. tapi, jangan salah, ayahku belum pernah sekali pun mengelabui pajak. betul. ayahku itu begitu. sejak dulu punya sifat jujur. tapi orang pajak itu tak henti-hentinya mengomel. apakah pemasukan ini tidak terlalu kecil? jangan bercanda, batinku. pemasukan sedikit ini karena tidak beruntung! mendengar kata2 nya seperti itu, aku betul2 merasa pilu. aku ingin membentaknya. coba kamu datangi org kaya lalu lakukan seperti apa yang kamu lakukan di sini, begitu. hei... kalau revolusi betul2 terjadi, apa sikap pegawai pajak itu akan berubah?"
"sangat meragukan."
"kalau begitu aku tak percaya revolusi. aku hanya percaya cinta."
norwegian wood - haruki murakami
Comments
Post a Comment