satu diantara dua puluh delapan hari, aku bersembunyi. aku masuk ke dalam rahimku sendiri. di dalam sana adalah negaraku. yang membedakanku dengan adam.
di ibu kota ada keributan besar. yang aku sendiri sebagai gubernurnya... eh bukan, maksudku 'presidennya'..yang itidak bisa mendamaikan. aku sudah teriak. memukul sudah. menyumpah sudah. semua sudah. tapi bisa-bisanya mereka berontak? mereka lupa aku lah tuan mereka. bahkan memohon pun aku sudah:
berhenti! berhenti! kataku pada mereka. tapi keributan terus terjadi.
roda2 diluncurkan. peluru2 dimuntahkan. rakyat marah membakar merusak. kupanggil bala tentara untuk mengamankan. tapi mereka masih berontak meraung raung tanpa ampun.
kataku pada mereka: apa salahku? kenapa kalian mengkhianatiku? kenapa kalian mempermalukanku?
negara lain! lihat negara lain sungguh damai!
tentara ku malah membuat bentrokan dan ketegangan jadi semakin merunyam.
keputusan salahkah barusan? apakah aku seharusnya undur diri jadi pemimpin di negara lain? tapi bisakah? aku ingin lari tapi tidak bisa, ini negaraku. tak boleh ku undur diri. menyerahkannya pada siapa lagi aku tak mampu.
tak akan ada yang mampu kecuali aku.
ketika petang tiba, kerusuhan sudah mulai memudar. mereka mulai senyap. aku keluar menyusuri jalan setapak. pergi tinggalkan ibu kota. dari kejauhan lambat laun udara menyamankan. bising mulai meredup
dan kembali ke singgasanaku. duduk berusaha damai lagi. sambil sebenarnya takut. takut karena tahu, dalam dua puluh delapan hari lagi ibu kota akan diteror lagi. penyusup dan pemberontak akan memanaskan suasana lagi.
aku panggil perdana menteri, ratu ku, dan seluruh kabinetku. berdiskusi bersama merancang semuanya.
aku cuma kepala negara. sepertinya sudah berusaha. memohon ampun dan berdoa. dan tetap tegar kalau satu dari dua puluh delapan hari ke depan masa masa itu muncul lagi.
Comments
Post a Comment