Saya akan mencoba menuliskannya. Harapannya tidak terlalu berapi-api karena sudah lewat tiga hari.
Menjadi percaya pada orang, menampilkan diri yang seutuhnya bukanlah hal yang mudah. Di bumi ini, ada juga yang diam-diam tidak nyaman dengan kita yang seutuhnya, dengan cerita cerita dan rahasia-rahasia kita, dengan apa yang kita pikirkan dan takutkan.
Betul betul tidak mudah. Sampai kadang berpikir, lebih baik mengeluarkan wajah2 tertentu saja agar lebih diterima.
Saya mendapat tawa dari seorang teman yang bilang saya tidak punya boundaries. Tidak punya batasan--setelah setengah mati saya mengekspos diri saya di depan dia, dan bukan di depan orang orang lainnya--orang orang yang saya anggap dekat tapi saya tidak berani mengatakan semuanya.
Saat itu saya cuma bisa diam dan separuh otak saya kayaknya mati. Apalah artinya mengumpulkan seluruh daya dan kepercayaan kalau jadi bahan becandaan :D ?
"Kamu tidak sepenting itu"
"Jijik, ya"
"Iyuwh"
"Kamu aneh"
Itu kan kata-kata yang sering saya dengar dulu, ya? Kata saya malam itu.
Muncul lagi pikiran2 yang lucu dan menyalahkan diri: kamu itu terlalu aneh dan tidak sepantasnya orang tahu itu. Kalau tahu, mungkin mereka akan meninggalkanmu. Dan iya, lihat lho dia meninggalkanmu, kamu sih terlalu aneh dan jujur.
Setahun saya coba bertanya tanya apa ya salah saya? Dalam 15 menit langsung dapat closure yang baik.
Walau dua hari menangis dan memimpikan ybs. Di mimpi saya berandai2 ia meminta maaf telah mengatakan banyak hal yang menyakitkan pada saya.
Tapi kan cuma mimpi. Di malam ke tiga ia tidak muncul lagi untuk minta maaf, mungkin karena dia tidak berani, eh tidak, mungkin ya karena bagi dia kok gitu aja perlu minta maaf, atau mungkin karena saya sudah berusaha memaafkannya juga. Walaupun cuma mimpi. Dan belum penuh maafnya karena ya kan saya juga berusaha memaafkan diri sendiri dulu. Boleh, ya?
Di malam ketiga saya mimpi bertemu dengan safe space saya: beberapa orang yang bikin saya senang, nyaman, dan gak insecure. Di mimpi pun saya banyak ketawa dan bercanda.
(Ih untung banget berarti sebagian diri saya masih punya pengalaman2 yg baik ya dan tentu saja teman teman baik :) )
Bangun pagi diajak pergi untuk belajar bersama dengan salah satu di antaranya. Saling cerita dan bercanda.
Lalu saya sadar. Seberapa anehnya saya, masih ada beberapa yang menerima saya. Walau saya ini bukan champion2 gitu lho, yang high profile dan tampil dari mimbar ke mimbar karena kelewatan cerdas dan trengginas.
Saya kalau berteman modalnya cinta aja kali ya, gak ada modal apa apa lagi deh. Duit atau kecerdasan aja secukupnya kok!
Berteman dengan saya sama sekali tidak harus bagus dulu LinkedIn profilenya. Cukup sekali duduk, kita bisa bicara apa saja, jadi diri sendiri, saling menerima dan koreksi kalau ada salah-salah.
Jadi, yang kemarin2 itu:
bukan, bukan salah saya sepenuhnya. Atau bahkan sama sekali bukan salah saya?
Jangan terus terus meminta maaf jika tidak betul betul tahu apa salah kita. Mawas diri perlu, tapi jangan sampai sudah tanya sana sini tetap kita bingung sendiri.
Teruslah belajar untuk menghargai setiap relasi dan orang. Sudahi semuanya, jangan terus mikir saya ini salah apa. Sudahi ya. Berikan cinta hanya kepada orang2 yang mau menerima cinta kita tanpa kebanyakan waspada, tanpa banyak mikir kalau kita punya motif di baliknya.
Mungkin orang-orang itu punya beban yang jauh lebih hah dari kita dan tidak punya lagi kapasitas dan tenaga untuk maklum. Coba lihat juga, apakah dia termasuk yang merawat relasi relasi lamanya?
Atau mungkin saya kurang banyak bertanya, ya? Sibuk dengan urusan sendiri dan terus berbicara tentang diri sendiri? Yaelah, balik lagi mikir saya salah dan kurang apa.
Sudah-sudah. Yang sudah, gak perlu dilanjut dan dipikirkan terus. Dia saja sudah pasti tidak mikirin ini, kok hahaha.
Dan jangan kasih sedetik pun kesempatan, untuk memikirkan orang orang yang berkehendak pergi dari hidup kita.
Berikan kesempatan kepada pikiran kita, untuk lebih banyak berkawan dengan doa doa yang baik yang nantinya melahirkan kawan kawan lain yang jauh lebih baik.

Comments
Post a Comment