suatu hari saya mimpi. mimpi di ramal tarot. saya divonis mati umur 25 tahun. saya kecewa lalu bilang sama tukang ramalnya: aduh saya kok mati muda? ada ga cara lain supaya saya bisa berumur panjang? saya belum siap mati! saya tidak mau mati!
kata tukang tarot: anda harus terima kenyataan. sudah terlambat. itulah takdir
saya: tapi saya gak mau mati masih muda begitu! (saya mulai nangis2)
tukang tarot: tidak bisa, anda harus terima. oh iya. kamu mati sebelum menikah dan punya anak.
saya: diam (dan menangis sejadi2nya di mimpi itu)/
tukang tarot: kamu mati karena kamu sakit.
saya: (terus menangis) dalam mimpi saya terbayang, alangkah sedihnya! saya belum pilih2 dan pakai kebaya buat nikah, bikin perpus dan majang2 gambar2 saya di perpus pribadi saya itu, jalan2 keliling negeri negeri, bekerja dimana2, punya toko sepatu, ketemu erlend lagi deh, bikin workshop nulis gambar atau kerajaninan tangan menyulam merajut bikin boneka di garasi rumah saya, ikut senam aerobik, taichi, yoga, karate, pilates, nganterin anak sekolah, beresin studio, kuliah s2 media atau apalah, s3, ikut kursus2, keluar negri, yah pokoknya cita2 ibu2 pada umumnya..

saya bangun dari mimpi itu sambil terus menangis. sungguh sedih sekali hati ini.

pagi itu saya naifnya berdoa.

saya memang punya banyak cita-cita, kalau memang saya besok harus mati. yasudah, matikan saya dalam suatu keadaan dimana
ada teman2 dan keluarga. . .

yg sayang sama saya.... hehehehehehohohoahahaha



Comments