cipularang

jalan ini konon adalah jalan bebas hambatan terpanjang yang paling panjang sepanjang ingatan.

cipularang namanya.
pendingin ruangan dalam bus yang saya tumpangi menantang jari2 tangan saya yang beku. yang kemudian berangsur2 menghangat karena otak dan hati saya senantiasa panas. sekiranya membara karena banyak kesan dan cerita yang rakus minta dikeloni.

begitu tak ada pena atau kertas. akhirnya saya menulis di batangan hitam yang saban hari disuapi listrik dua sampai tiga jam. batang berjantung lithium yang memompa listriknya penghubung saya dengan dunia maya yang tampak nyata. dengan orang2 yang jauh diseberang pulau dekat di hati.

pemandangan kiri kanan rupanya banyak hijaunya. terselip warna merah bata barang sebiji dua biji yang diselimuti biru atau putih atau abu2 diatasnya. urusan warna ini, sungguh dan syukurlah mendamaikan mata.
kadang coklat, kuning temaram mewakili gugusan pohon meranggas. bisa rupanya manis kian.

barangkali,
memang lupa otak saya memanjat syukur atas pemanjaan mata murah dan sederhana ini. tapi diam2, hati, jiwa, raga, indra2, ruh dan badan saya tak putus2 memuju ilahi dengan memesan endorfin sembunyi2 tanpa sepengetahuan saya. sehingga, saya jadi demikian tenang sentosa hanya dengan melihat, mendengar, dan duduk2 saja di bis ini.

itu mungin cara tubuh berterima dan berkasih dengan yang maha kuasa.

ternyata, apa yang terkira panjang tidaklah demikian adanya. telah habis badan cipularang mengantar saya sampai ibu kota parahyangan, tempat saya dilahirkan, dan dilahirkan sekali lagi.

banyak pikiran dan lagi2 pertanyaan diatas pernyataan.yang sedari tadi dipikirkan dalam2. contoh2nya seperti, bagaimana rupa suami saya nanti, anak, kawan2 baru dan lama, orang tua, handai taulan, kerabat, sanak saudara dan sebagainya. bagaimana bentuk rumah saya, ruang makan dan taman pekarangan? bagaimana sekolah2 dan kantor2 saya selanjutnya? bagaimana baju dan seragam saya? bagaimana rupa saya nanti? sampai kapan...sampai kapan?

dan terutama... bagaimana saya akan mati nanti?

dalam tidurkah? kecelakaankah? sakitkah?

dan apa setelahnya? gentayangankah? jadi kunti? pocongkah?
adakah yang tahlilan di rumah saya? adakah yang menangisi?

semua pernyataan dan pertanyaan itu. pasti kamu pernah memikirkannya. sama seperti saya.

semua pernyataan itu, merupakan ide dimana saya menulis disini. dari tanya2, lahirlah pernyataan yang mungkin cuma saya baca sendirian2 saja. karena nampaknya hanya seputar diri sendiri. bukan masalah bbm korban afganistan atau resesi ekonomi. bukan yang menyangkut kemaslahatan orang banyak.
memang cuma dengan dalih mengaktualisasi diri. yang kalau tidak begini nih, saya bisa keliatan tidak wajar. supaya saya selanjutnya dapat keliatan wajar. meskipun rupa2nya, ketidakwajaran itulah yang wajar sepertinya.

ternyata benar dugaan saya. cipularang sependek itulah.

tak terasa ini sudah leuwi panjang. waktu menuju dua tiga delapan. belum makan siang dan kelaparan.

turun di terminal, syukur lah. mungkin karena lapar hidung mancung ini tidak sibuk dengan sambutan bau pesing atau gelandangan antar kota. melainkan sesumbar bau para balado ditanak di rumah makan padang sebelah sana...

dan ternyata, cipularang  sependek itulah.

sependek itu sehingga belum sempat saya berbincang dan bertemu dengan si jawaban2 tentang berbagai pertanyaan dengan diri sepanjang perjalanan. kemudian membuat daftar pertanyaan diatas tulisan asal2an untuk dicaci diri sendiri. mungkin karena terlalu sibuk melamun dan mikir2 sok2 panjang,

eh rupanya sudah sampai tujuan.

Comments