Reinkarnasi itu Ada?

Sudah lama saya tidak nulis blog ini dan berbicara banyak akhir-akhir ini. Sedih juga ya... Alasannya klise: saya sibuk, kuliah dan kerja. hehe... alasan sampah. Tapi dibalik kesibukan yang sebenarnya tidak ada apa-apanya itu, saya harus memaksa diri saya untuk menulis. Kalau tidak menulis, saya jadi gila. Maka sebelum saya kembali jatuh gila, izinkan saya bercerita dan berbagi pikiran. Bukan karena saya tidak punya teman berdiskusi, bukan. Semuanya karena saya pikir, menulis apa yang kita pikirkan itu sangat sangat sangat penting. Pertama, untuk menjaga kewarasan. Kedua, untuk bisa mensistematikakan pikiran kita yang acak-acakan di kepala. Ketiga, untuk berbicara dengan diri sendiri. Keempat, untuk menyadari bahwa kita manusia. Kelima, untuk menyayangi sesama manusia.

Kali ini saya akan berpendapat soal reinkarnasi dan mengapa saya percaya reinkarnasi.

Saya (mengaku) seorang muslim, yang bisa dibilang seperti muslim pada umumnya-terutama muslim yang hidup di kota-kota besar di Indonesia-yang moderat, yang berusaha yakin namun skeptis tentang ajaran agama. Terlebih lagi, usia saya adalah 25 tahun, usia di mana sedang/sudah cukup mengalami banyak pergolakan pikiran dan batin, terutama ketika berpikir tentang apa yang tidak kasat mata-tentang Tuhan, doa, dan berbagai hal di luar nalar.

Saya percaya Tuhan. Kepercayaan ini tidak muncul cuma-cuma. Tidak muncul karena saya pergi mengaji atau nonton Mamah Dedeh. Tidak muncul karena disuruh percaya. Tidak muncul karena cari aman. Tidak muncul karena saya sayang mamah papah.

Saya percaya Tuhan karena sebelumnya saya pernah tidak percaya.

Saya juga percaya bahwa agama, diniscayakan Tuhan. Agama, diberikan Tuhan ke pada manusia, untuk membuat manusia hidup sebagai manusia.

Saya muslim, dan saya percaya agama saya baik. Juga agama lain. Saya percaya ritual Islam kurang lebih memiliki esensi yang mirip dengan ritual Nasrani, Buddha, Hindu dan sebagainya. Dan bagi saya, itu cita rasa. Soal selera. Esensinya mirip: jika benar-benar diketahui dengan kebijaksanaan, dikonsumsi dengan baik dan dengan dosis yang tepat. Agama-agama sesungguhnya menyehatkan. 

Sekali lagi itu menurut saya saat ini.

Saya percaya bahwa menjadi muslim, adalah pilihan yang terbaik untuk saya. Saya percaya suatu agama lain baik untuk dia, dan beberapa agama lain baik untuk mereka. Setidaknya saat ini.

Bahkan saya percaya mereka yang memeluk/mengaku Nasrani misalnya, bisa saja lebih muslim dari mereka yang mengaku memeluk Islam. Begitulah. Mungkin lain kali saya akan berbicara/berpendapat tentang apa itu muslim-arti kata muslim secara harfiah dan etimologinya. Karena entah mengapa, intuisi saya menyatakan bahwa muslim tidak hanya pemeluk Islam seperti kata Wikipedia. Saya yakin itu tidak sesederhana itu. Intuisi saya, yang tentunya tidak melewati penalaran logis dan konsensus terlebih dahulu, mengatakan bahwa muslim adalah kata yang indah, yang merujuk pada suatu sikap dan keyakinan yang lebih dari sekadar pelabelan atas kelompok manusia tertentu (dalam hal ini adalah kelompok manusia yang memeluk Islam). Jadi bisa saja, seseorang yang di ktp beragama Kristen, perilakunya lebih muslim dari mereka yang ber-ktp Islam.

Kembali ke soal reinkaranasi.

Reinkarnasi dalam Sansekerta disebut Punarbawa. Punar artinya kembali, Bawa artinya lahir. Maka Purnabawa adalah kepercayaan tentang kelahiran berulang. Seperti penitisan dalam perbedaan ruang. 

Dalam kepercayaan Hindu, seseorang yang meninggal, jika belum melakukan pensucian sempurna, belum moksa, maka ia akan bereinkarnasi. Ia bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya sebagai makhluk lain: entah jadi manusia lagi, jadi bunga, jadi babi, jadi apapun. Dan sebelum mencapai moksa, ia tidak akan berhenti bereinkarnasi.

Konsep reinkarnasi dalam Islam berbeda dengan Hindu. Dalam Islam, dikenal konsep reinkarnasi dimensi jiwa: jiwa manusia mengalami proses penyempurnaan. Proses penyempurnaan itu, hanya terjadi semasa hidup orang itu. Misalnya, suatu saat ia sedang berada dalam jiwa level 1, lalu setelah melewati kejadian-kejadian tertentu, ia bertobat dsb lalu naik/lahirlah ia ke level 2. Begitu seterusnya sampai ke level sempurna (anggap saja level 10), sampai ia wafat. 

Kalau ternyata saat wafat ia belum sampai level 10, yah, wallahualam, hitung-hitungan urusan Do'i yang Maha Bijak...

Saya menelusuri internet dan melihat banyak sekali dalil tentang reinkarnasi. Sebagai makhluk yang ber-ktp Islam, saya jadi penasaran 'Islam terhadap reinkarnasi'. Banyak juga ya kalimat yang disinyalir bercerita tentang reinkarnasi.

Contohnya,

"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan." (QS 2:28)

"Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati dan di bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan" (QS 7:25)

"Darinya (tanah) Kami ciptakan kamu, kepadanya, Kami kembalikan kamu dan darinya (tanah), Kami keluarkan mu untuk kedua kalinya" QS 20:55)

Yang manis, seperti syair Jalaludin Rumi:

Aku mati sebagai mineral dan menjlema tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,
Dan melambung bersama malaikat; dan bahkan setelah menjelma malaikat
aku harus mati lagi; segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.


Kalimat-kalimat di atas semestinya banyaklah tafsirnya. Tidak serta merta bisa ditafsirkan bahwa reinkarnasi itu ada.

Namun, seperti halnya saat ini saya meyakini bahwa Ahok adalah seorang muslim, saya meyakini bahwa reinkarnasi itu ada. Bagi saya, risalah Hindu atau Islam, keduanya bisa saja dipercaya. Maksud saya, ada baiknya itu dipercaya untuk ada. Namun, jangan jadikan reinkarnasi sebagai kesempatan untuk menebus kesalahan belakangan. Saya dulu sempat berpikir begini: ah hidup saat ini ya sudah tak usah betul-betul berusaha. Hidup saya yang ini mah,  sudah kepalang gak keruan, hehe... Toh, nanti saya punya kesempatan hidup di kehidupan selanjutnya. Dengan demikian, saya akan berusaha di kehidupan selanjutnya saja. 

Bukan gitu, Ceu.

Justru dengan memercayai reinkarnasi, merupakan kesempatan untuk  memperbaiki kesalahan dan berusaha. Maksudnya, jika hasil dari memperbaiki kesalahan/berusaha itu belum terlihat nyata saat ini, lantas saya langsung kecewa. Bukan gitu. Mungkin saja di kehidupan selanjutnya akan terlihat hasilnya (Jadi, jangan menganggap semua perbuatan baik/usaha langsung kelihatan hasilnya saat itu juga. Mungkin besok, mungkin lusa, mungkin bulan depan, tahun depan, atau di kehidupan selanjutnya).

Begitu...

Reinkarnasi ada atau tidak ada, saya tidak tahu. Tapi kalau dipaksa milih, saya milih percaya. 

Lagipula kebenaran milik Tuhan. Kalau orang-orang komplek sini bilangnya sih, Wallahualam. 

Kalau kata Bung Nietzche, There are various eyes. Even the Sphinx has eyes: and as a result there are various truths, as a result there is no truth.

Comments

Post a Comment