(Image dok. designwizard.com)
Sejak itu, saya mulai menyadarinya: bahwa suara detik di jam tangan saya ini semakin menggenapi kesadaran saya. Kesadaran akan ruang dan waktu yang baru-baru ini semakin terasa. Terasa sebagai suka cita, kerinduan, dan elegi.
-----
Kira-kira sejak sembilan tahun yang lalu, sering terbangun dengan perasaan mengawang. Bertanya kenapa bisa sampai di sini, atau mengapa ada di sini. Kesadaran menjadi kabur. Panik karena merasa hari kemarin betul-betul ada sekaligus lenyap. Hari kemarin yang terbentuk dari kumpulan aktivitas dan peristiwa yang saya sadari tidak lagi dialami tapi masih terasa. Aneh. Mengingat hal-hal yang baru atau sudah lama dilalui.
Saat itu, saya enggan menerjemahkan perasaan itu sebagai rindu. Karena tidak sepenuhnya saya ingin kembali ke situ. Ada rasa kehilangan tapi ingin melepaskan. Ada rasa kembali berpulang tapi ingin bergegas pergi.
Kemudian hari-hari berganti. Perasaan-perasaan itu selalu muncul lagi dan lagi. Disebut kalut, lega, was-was, tidak percaya, atau entahlah saya tidak tahu. Butuh waktu untuk sadar bahwa perasaan-perasaan itu bagi saya merupakan pertanda bahwa kelahiran saya mulai utuh.
Lalu,
Setelah akhirnya mulai pintar mengidentifikasi perasaan-perasaan itu, lantas saya berani menerjemahkan: mungkin itulah cara kerja memori. Memori yang memberikan pemahaman bahwa waktu tidak berjalan linear. Dan membenarkan bahwa waktu adalah ilusi. Memori yang membuat kita kembali namun tetap di sini. Memori yang melahirkan kesadaran akan ruang dan waktu.
Apapun itu, menyadari kehadiran memori dan bahwa perasaan selalu terkait dengan ruang dan waktu, bagi saya merupakan proses lahir kembali. Menerima perasaan yang mengawang saya anggap sebagai jati diri. Selanjutnya, ketika perasaan itu muncul lagi: kali ini saya menyikapinya dengan lebih leluasa. Meskipun perasaan yang memiliki premis "sudah ada di sini" itu tetaplah muncul. Namun, saya sudah belajar mengubah pertanyaan menjadi pernyataan: dari "mengapa ada di sini" menjadi "saya ada di sini". Itu cukup mencegah pikiran saya terlalu mengawang tak terkendali. Memberikan kesadaran penuh atas apa yang saya hadapi di detik ini.
Menahun untuk membuat saya semakin memiliki kesadaran bahwa saya manusia yang dibatasi ruang dan waktu. Memiliki kesadaran penuh tentang keberadaan diri. Sekarang, ketika perasaan itu muncul, saya sudah bisa menerimanya dengan mudah seperti membolak-balik sebuah kertas penuh coretan. Saya mulai ikhlas dimakan memori-memori yang menyergap datang tak diundang. Tidak ada lagi emosi berlebih ketika memori datang. Hanya kadang tersenyum atau ingin menangis sebentar.
Memahami hakikat waktu dan keberadaan diri, sebuah surah yang sangat indah, magis, membuat takut dan ingin menangis:
Al 'Asr
By Time.
Indeed man is in loss,
except those who have faith and do righteous deeds, and enjoin one another to the truth, and enjoin one another to patience.
dan sebuah lagu gubahan yang mengukir persepsi dan membuat saya lumayan gila:
Out Of Time (2003)
And you've been so busy lately
that you haven't found the time
To open up your mind
And watch the world spinning
gently out of time..
Tell me I'm not dreaming, but are we out of time?
are we out of time?
out of time?
out of time?
out of time?
dan senandung Al Ghazali beribu tahun yang lalu yang sangat jernih dalam membangkitkan kesadaran itu:
yang jauh,
itulah masa lalu,
yang dekat,
...adalah mati.
-----
Sesungguhnya kesadaran itu belum utuh. Saya masih belajar memahami keberadaan diri. Saya masih belajar untuk tidak terlalu lama terjebak dalam memori. Saya masih belajar bahwa semua ini akan terlewati. Dan saya masih belajar untuk mengerti pernyataan yang sering alpa dalam pikiran bahwa: kita benar-benar tidak akan selamanya ada di sini.
Dan detik di tangan saya belum tentu berdenyut sampai nanti.

Comments
Post a Comment