A Copy Of My Mind: Berahi dan Cinta Sejati


 CNNIndonesia Internet/Dok. CJ Entertainment)


Petang kemarin, masih di bulan Februari yang penuh cinta ini, saya merasa cukup tidak sia-sia meretas kemacetan Jakarta sepulang kerja untuk menonton film di salah satu bioskop murah lay-lay terkemuka ibu kota. Mungkin karena sudah lama tidak menonton film Indones(i)a, pikir saya saat itu, jadi film karya Joko Anwar, A Copy of Mind, ini menjadi cukup menghibur.

Film ini dibuka dengan obrolan tentang jodoh antara klien dan beautician di salon kelas menengah ke bawah yang kayaknya ada di kawasan Blok M--tempat saya nonton film hari itu. Begitu adegan jerawat yang dipencet tampil di depan mata, saya langsung memutuskan: kayaknya bakal betah nonton film ini.

Betul juga, film ini bagi saya sangat mumpuni menampilkan segala semrawut Jakarta yang cantiknya kadang nyebelin. Mata ini dimanjakan dengan pengap kopaja, bajaj, emba-emba berjilbab menerawang memikirkan entah apa, kepulan asap, palang kereta, cahaya matahari yang berdebu, ember-ember krim creambath, lapak-lapak berjualan segala ada, pemutar DVD buatan China, dan lain sebagainya. Yang juga saya suka:  hingar-bingar Jakarta diputar dengan sangat segar. Suara Adzan, klakson mobil, knalpot yang sengaja disumbat, peluit parkir,  BLOK M!!! BLO' EM!, house music, dangdut dan mandarin. Nikmat!


Bagian yang menarik lainnya, bagi saya sih, tentu saja bukan adegan kaki dirajam besi yang kayaknya jadi ciri khas Mas Anwar ya? Bagi saya yang menarik itu... selain penggambaran wajah Jakarta, tidak lain tidak bukan adalah adegan bercinta: saat Sari meminta diputar film bokep, atau terutama saat kamera yang di-zoom-in ketika mereka bercinta terlihat grasa-grusu; alias itu kameramennya sengaja goyang-goyang atau gemeteran ya? Bagi saya itu masterpiece. Ada sedikit sensasi seperti menonton bokep buatan rumah. Good! Lalu, adegan ibu kosan dengan dempul yang pas kadarnya sedang bernegosiasi dengan penghuni kosan juga ciamik. Begitu juga kehadiran indomie dan supermie yang jadi andalan penuntas lapar naq qosan. Mantap!

Sejujurnya sih, saya merasa tempo film ini agak kelewat lambat. Apalagi bagi mereka yang tidak tinggal di Jakarta atau mereka yang tinggal di Sibolga atau Mandailing Natal atau mereka yang asing dengan budaya urban Indonesia. Mungkin saja film ini membuat mereka sedikit gelisah menahan bosan. Kalau saya sendiri sih, bisa lebih menikmati film ini karena mungkin cukup relate dengan kehidupan di sana.

Oleh karena itu, tempo itu bagi saya sama sekali bukan masalah. Penggambaran tokoh Sari dari kelas menengah ke bawah juga ajeg terutama ketika ia ditanya soal cita-cita yang jawabannya: mau punya hometheater, alias matrealistis-tidak kepikiran mau jadi atau mau berbuat apa selayaknya ciri masyarakat di kelas lainnya. Hanya paling, yang saya kepengin banget lihat adalah Sari memakai celana jeans ketat mbladush Gucci atau Louis Vuiton KW (kalau bisa) dengan sedikit payet kristal Swarovski tipu-tipu di saku pantatnya yang semlohay nan bagus sekali itu. Tapi berhubung dia emba-emba tukang facial  salon murah Jakarta yang cukup anomali (karena alih-alih suka drama korea atau romkom, dia malah suka film monster-apalah-itu), wajarlah ia pakai rok, sneakers, dan tas kanvas bermotif etnik yang rasa-rasanya saya lihat terpajang dan seliweran di beberapa gerai Plaza Indonesia atau interchange PIM 1 dan PIM 2 :)

Oh ya, agak sedikit bingung juga karena wajah Tara Basro entah mengapa selalu terlihat: tersenyum misterius meskipun sedang marah, (Eh atau memang itu karena Beliau sedang memerankan karakter cewek mesem2 atau ngambek2 manja, ya?) Yang jelas, berbanding terbalik dengan Chico Jericho yang ngeri-ngeri bikin penasaran, Tara Basro masih terlihat high-profile untuk menjadi Sari. Sehingga entah mengapa, saya dan teman saya kepikiran Rina Nose, Ussy Sulistyowati, Ayu Ting-ting, atau Syahrini untuk menggantikan perannya sebagai tukang facial di Salon Yelo (tapi tentu saja dengan kemampuan akting sekelas, yah, Jajang C. Noer kali ya.. atau Ria Irawan-lah).

(Eh tapi kalau melihat Rina Nose berpadanan dengan Chico Jericho... agak ngeselin juga sih)

Dari segi cerita, yah lumayanlah, saya cukup senang. Meskipun bagi saya sih tidak menonjol-nonjol amat isunya. Tapi menghibur. Mengangkat isu makelar pemerintah yang kelewat berahi, memamah dan berkembang-biak di negara ini, berikut cinta antara seorang perempuan muda sederhana dengan cita-cita sederhana dan seorang lelaki yang persetan dengan identitas, film ini lumayan juga ya. Saya taksir bintang tujuh dari sepuluh. Meskipun lumayan sinting juga ya baru satu dua kali ketemu udah langsung berhubungan intim. Tapi ya, siapa yang tahu?

Sampai di ujung cerita, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan baru: adakah Sari akan menarik ucapannya kembali bahwa ia bisa hidup sendiri setelah mulai terbiasa hidup dengan Alek, pria tanpa identitas yang cintanya ternyata lumayan juga terhadap dirinya? Saya lumayan penasaran dan masih sangsi. Meskipun demikian, saya masih bisa sabar menunggu film selanjutnya karena konon katanya A Copy of My Mind ini merupakan trilogi. Yah, tunggu aja deh.


Comments