Foto/Image taken from Pinterest
Dan memercayai hati saya: pada dasarnya kita bisa mencintai siapa saja dan apa saja.
Kebetulan kami berada di batas kritis. Muak dengan segala pelabelan: saya gay, saya straight, saya suka tas kulit, atau saya bi, saya cendikiawan atau saya sendal jepit.
Saya mungkin memahami apa yang dirasakan para (dan kami) LGBTQ secara umum. Terlalu kembung didiskreditkan dalam dunia penuh maklumat heteronormativitas. Atau terlalu kenyang dengan otonomi benar dan salah.
Saya berharap, jika seseorang mengaku atau adalah gay, ia menjadi gay yang merdu. Pun jika ia dan ia penyembah berhala atau hafiz dan hafizah Qur'an.
Saya takut dan curiga sejujurnya, ketika sesumbar memberitahu identitas dan terlalu berbangga karenanya: jangan-jangan ia sekadar antek kapitalis yang sedang mempromosikan barang dagangan. Atau saya takut ia tidak tahu: sementara ia berteriak-teriak, mereka di pojokan sana diam-diam menaksir harga: siap menjadikannya barang dagangan baru. Menyuntikkannya dengan bahan pengawet, menghilangkan puluhan persen keasliannya. Menjualnya.
Segala sesuatu yang dieksposisi berlebihan bisa bikin mual. Apalagi seperti menembakkan peluru ke segala arah secara brutal. Salah sasaran, yang tak mengancam justru mati mendadak. Entah itu agama atau seksualitas. Bagi saya (maaf) sama saja. Ya itu tadi, sepertinya rawan menjadi komoditas baru.
Saya rasa karena saya manusia. Bukan barang dagangan di supermarket. Saya yakin represi memerlukan penyaluran energi. Tapi saya hanya ingin selongsong peluru yang penuh itu ditembakkan ke sasaran yang tepat. Boleh berteriak karena memang ada yang benar-benar tuli. Boleh menuntun karena memang ia buta.
Maka, saya mohon dengan penuh rasa hormat: cari tahu dulu siapa yang buta dan tuli.
Saya menolak diberi label. Dan menolak melabeli diri sendiri dan orang lain. Karena pada akhirnya, identitas itu sangat longgar, bergantung pada wawasan dan kepercayaan (dan agenda) si pemberi identitas yang adalah diri sendiri atau orang lain.
Sementara itu, tidak satu pun manusia di bumi ini yang selalu atau pernah memiliki pengetahuan yang cukup. Saya rasa, tidak satu pun. Saya pikir, tidak akan pernah. Sekuat dan serajin dan sejenius apapun tidak akan pernah cukup. Karena memang wawasan dan pengetahuan itu benar hanya milik Tuhan yang Maha Satu.
Sehingga ketika suatu Identitas, apapun itu, baik agama, gender, seksualitas, preferensi politik, preferensi memilih baju, pernyataan cinta, diumumkan, saya selalu berada di batas kritis: berakhir tidak percaya, atau paling tidak, waspada.
Siapapun yang mengumumkannya, baik diri sendiri maupun orang lain.
Karena satu-satunya yang saya percayai adalah adanya keterbatasan manusia sepenuhya.
Atau memang mungkin saya yang keliru, karena terbiasa mengumbar makna diri di hadapan orang lain (sadar atau tidak sadar) dengan banyak muatan politis, atau karena saya terlalu banyak nonton slogan iklan televisi. Jadi apapun itu, saya tidak mau menelan bulat segala pernyataan, baik yang keluar dari diri sendiri maupun mulut orang lain.
Atau kalau memaksa, biarlah identitas itu hanya Tuhan dan diri sendiri yang tahu. Biar mereka menaksir harganya dan merasa onar karenanya. Biar di sini kita sibuk meramu ilmu baru, menemukan vaksin baru, atau menyanyikan lagu-lagu baru. Yang merdu.
Baru, kalau ada yang melangkahi teritori, libas dengan palu dan paku! Yang sopan dan menjaga hatinya, saya mohon jangan ditembak... Menjawab secukupnya jika ditanya, dan jujur atas apa yang dirasa. Barangkali luka-luka itu sembuh...

Comments
Post a Comment