#7 30 Hari Bercerita

Tanggung jawab (menulis #30haribercerita).

Benarkah saya perlu bertanggung jawab atas apa yang saya tulis dan kemukakan di sini?


***

Sepanjang hidup, seorang pemilik tubuh dipenuhi berbagai tanggung jawab. Saya misalnya, dalam skala besar (bagi saya), yang saat ini adalah sebagai seorang anak-siswa-teman-kakak-pekerja-sahabat memiliki berbagai macam tanggung jawab terhadap orang tua-ilmu-teman-adik-organisasi-sahabat dan lain sebagainya.

Dalam skala lebih kecil, misalnya ketika saya sebagai penumpang kendaraan umum, saya memiliki tanggung jawab terhadap penumpang lain, pengemudi, pemakai jalan, petugas jalan, dan lain sebagainya.

Lagi, dalam skala yang jauh lebih besar, sebagai seorang manusia, kita memiliki tanggung jawab terhadap umat manusia-Tuhan-dan diri sendiri.

Tanggung jawab bagi saya meliputi tindak tanduk, ucapan, hingga cita-cita. Sebagai seorang anak misalnya yang dibesarkan (dengan cukup baik) dan sekarang masih menumpang di rumah orang tua, tanggung jawab saya tidak sekadar  membersihkan rumah, nyumbang2 dikit buat orang tua, menjaga perilaku di depan adik, dan ngurusin hewan peliharaan. Tanggung jawab adalah membawa nama baik keluarga ketika saya berada di luar rumah dan memilih cita-cita yang membuat keluarga saya aman secara (misalnya) finansial, mental, dan moral.

Tidak hanya sampai di situ. Tanggung jawab sebagai seorang pelajar misalnya (duh males banget untuk disinggung-singgung lagi), dimulai dari menyelesaikan tugas, mengikuti ujian, dan menerapkan ilmu itu dengan semestinya untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat.

Tanggung jawab punya sosial media: tidak posting hal-hal culun yang meresahkan teman sosmed atau follower kita atau bikin temen tambah dosa karena pengin ngata2in kita. Dsb.

Saya tidak perlu menyebutkan tanggung jawab lain ketika kita memiliki peran yang lain lagi.

Yang jelas, seiring dengan bertambahnya usia, sepertinya tanggung jawab akan semakin bertambah… dan bertambah. Dan bertambah.

Saya menganggap tanggung jawab seperti pil pahit atau suplemen. Pahit, susah ditelan, tapi menyembuhkan atau menyehatkan. Sebagaimana dunia memang bikin sakit dan kadang adalah penyakit, tanggung jawab adalah obat atau suplemen yang penting, yang perlu dikonsumsi rutin dengan dosis tepat. Artinya, kalau orang tidak punya tanggung jawab sama aja bunuh diri dan kalau overdosis tanggung jawab bisa mampus juga.

Tanggung jawab berhubungan dengan penilaian orang atas diri, pemuasan kebutuhan orang lain, dan kemungkinan  manfaat atau resiko atas segala tindak tanduk  terhadap orang lain. Intinya, si tanggung jawab ini tidak hanya bersifat preventif (yang mengontrol saya agar berbuat tidak merugikan orang lain atau lingkungan saya), melainkan juga memiliki sifat opresif

Ya, mungkin Kamu akan bilang seharusnya tanggung jawab tidak dirasa sebagai beban yang merenggut kebebasan. Namun, jujur bagi saya, tidak bisa demikian. Ketika saya mengemban tanggung jawab,  atau memilih untuk bertanggung jawab, saya akan melakukan prosedur yang merenggut beberapa persen kebebasan dan membuat saya ditekan.Oleh karena itu, menuntaskan tanggung jawab pastinya menguras tekad dan energi.


Tekad dan energi  itu terbatas. Berbeda dengan hasrat dan ke(p)inginan jangka pendek.  Misalnya, ketika saya bilang akan lanjut sekolah, ya  pengejawantahan tanggung jawab saya itu antara lain bangun pagi atau tidur lebih larut atau memotong jam ngalor-ngidul sama teman demi menyelesaikan tugas sekolah.

Dan jujur aja, (ini sih kalau saya yah) ketika sudah berada di sana, bohong belaka ketika badan pengin tidur-tiduran, ngepoin orang di sosmed, atau nerusin nonton Mr. Robot, dengan gampangnya saya bikin  esai mengenai strukturalisme dan hubungannya dengan teori konsekutif penjurubahasaan. Bohong belaka lebih mudah mengerjakan esai itu dibandingkan leyeh-leyeh tidur-tiduran gak mikirin macem2 atau melakukan kepinginan jangka pendek lainnya. Tentu saja saya butuh tekad dan energi lebih untuk melawan kepinginan  nonton episode Mr. Robot selanjutnya.

Bagi saya, ketika sudah mengidentifikasi sesuatu sebagai tanggung jawab, hal apapun –baik yang saya sukai atau tidak saya sukai- hanya bisa ditunaikan/diselesaikan dengan energi dan tekad lebih.  Maksudnya, meskipun misalnya saya suka nulis dan memutuskan untuk jadi jurnalis, tetap saja saya butuh tekad dan energi lebih untuk menulis (karena ada si tanggung jawab tadi).

Jadi, ketika sudah kepikiran memiliki tanggung jawab, berarti juga seharusnya sudah kepikiran bahwa saya harus mengatur dan menyiapkan beberapa pasokan energi dan tekad.

Karena energi dan tekad, itu… ter-ba-tas.

Meskipun demikian,

untuk membantu  menunaikan berbagai tanggung jawab, energi dan tekad itu bisa dikumpulkan.  Dan untungnya, sumber dan cara mengumpulkan energi dan tekad itu tidak terbatas pada satu jenis saja. Dengan demikian, saya bisa memiliki lebih dari satu macam tanggung jawab selama saya tahu berbagai macam sumber dan cara lain dalam mengumpulkan energi dan tekad.

Yang jelas, energi dan tekad itu (bagi saya sih) bisa dikumpulkan dengan melakukan kegiatan yang tidak (terlalu) bertanggung jawab misalnya dengan istirahat, tidur, baca, ngayal, ngobrol dengan teman, curhat, nonton, atau


menulis ngalor-ngidul (mostly tentang pikiran dan perasaan saya) di blog ini.

Sehingga,

Bukan tanggung jawab saya ketika setelah menulis apapun dari benak saya di sini, untuk mendengarkan komentar apapun dari para pembaca tulisan ini. Bukan tanggung jawab saya untuk membuat atau mendengar bahwa mereka setuju atau tidak setuju dengan tulisan saya di sini. Bukan tanggung jawab saya untuk senang dan tidak senang membaca tulisan saya sendiri di sini. Dan bukan tanggung jawab saya untuk memperbaiki apa yang telah saya kemukakan di sini atau mengubah besar-besaran pendapat dan perasaan saya akan suatu hal di sini.

Jadi, omong-omong soal: tanggung jawab (menulis #30haribercerita).

Benarkah saya perlu bertanggung jawab atas apa yang saya tulis dan kemukakan di sini?

Sayang sekali, saya memilih:



sama sekali tidak.

Comments