Kemarin,
sempat ngobrol dengan seseorang yang mengungkapkan suatu pemikiran dan perhatiannya
(yang bagi saya oke banget) atas perbedaan dan implementasi peraturan di
Indones(i)a dan (beberapa) negara-negara Skandinavia… (eh atau kalau bukan itu
istilahnya, mari kita sebut negara-negara Nordic atau Eropa Utara) .
Cerita
berangkat dari pengalaman Beliau ini mengenai betapa woles dan tenggang rasanya
orang-orang yang tinggal di sana. Woles tapi tetap patuh dan memikirkan
tanggung jawab diri sendiri, Tuhan, dan sesamanya.
Karena
saya belum pernah ke sana tapi penasaran sama budayanya, maka saya gugling2
sedikit tentang negara-negara di sana. Salah satunya, Finlandia yang mempunyai
ibukota Helsinki yang menurut Dailymail, merupakan kota terjujur di dunia. Eksperimen sosial dalam artikel itu
menyatakan bahwa dari 12 dompet yang dijatuhkan secara sengaja di Helsinski, 11
dompet dikembalikan dengan keadaan: uang
masih utuh.
Dari
sebuah blog juga
saya menemukan beberapa negara Nordic itu merupakan negara yang paling bahagia
di dunia. Fasilitas kesehatan dan pendidikan gratis, dan lain sebagainya. Juga,
salah satu yang paling keren adalah sebuah kesimpulan dari satu survei yang
menyatakan orang Swedia 83% persen
mempercayai pemerintahnya.
Cerita
dari blog lain,
semua negara Skandinavia masuk lima besar negara paling bersih dalam Indeks
Persepsi Korupsi.
(Eh ya,
baca tiap link kalau mau tahu segala efektifitas kebijakan di sana dan beberapa
kajian mengenai hal-hal positif yang membuat negara-negara Nordic tsb. menjadi
serba harmonis dan teratur.)
Saya
sendiri sih paling senang mendengar cerita Beliau soal pemerintah di sana
(contohnya Swedia) yang alih-alih pasang rambu-rambu lalu lintas dengan tema
“dilarang” (misalnya dilarang berhenti di sini, dilarang jualan, dilarang
belok, dsb.), mereka pasang rambu-rambu “silahkan” (misalnya silahkan belok di
sini, silahkan parkir di sini, atau silahkan putar balik di sini). Intinya,
peraturan bisa jadi efektif dan efisien dengan tidak harus bersumbu pada
larangan ini-itu.
Saya
bilang sih keren sebagaimana kebetulan saya juga tidak suka dilarang ini-itu.
Hehe.
Yang
lebih asyik lagi, Swedia konon katanya memberikan jatah cuti untuk Ibu
hamil-melahirkan selama 420 hari dengan gaji 80 persen dari gaji normal. Itu
kan artinya… lebih dari satu tahun dong cutinya! Haha. Ni’mat! Apalagi buat
embak2 pekerja kantoran seperti saya yang diam-diam mikirin gimana yaaa kalau
saya kelak hamidun dan melahirkan nanti… Jujur, deg-degan banget denger cerita
itu. Deg-degan karena sirik!
Mendengar
cerita-cerita itu, pastilah memunculkan hasrat kepengin membanding-bandingkan
negara sendiri dengan orang lain. Dan kalau ditulis perbandingannya antara
Indonesia dengan Nordic Countries di sini…
rasanya bakal ngantuk, kesal, bangga, atau geli sendiri. Perbandingan
itu sudah banyak dikemukakan, dan pepatah lama, seperti kita harus belajar dari
mereka, sudah banyak dilontarkan dan rasanya sudah basi. (Karena belajar doang
kalau tidak “terlibat” ya percuma).
Yang
jelas, yang paling manis dari obrolan singkat dengan Beliau tentang
negara-negara dingin itu adalah ditutup dengan kalimat, “ Mereka bilang orang-orang di sana Atheis. Namun, saya rasa bukan itu. Tugas
agama memang sudah lama selesai di sana.”
Dan
saya mengangguk seada-adanya karena rasa-rasanya,
saya setuju.
Comments
Post a Comment