*warning
spoiler allert*
Edward muda adalah lelaki berprestasi di kotanya: pandai
olah-raga, juara sains, berani, ganteng, pekerja keras, penyayang, dan gampang gaul
(termasuk gaul dengan raksasa yang jadi teror seentaro kota).
Edward
tua senang bercerita tentang pengalaman-pengalaman mengagumkannya selama muda
berulang-ulang kepada siapa saja. Namun, semua orang senang mendengar cerita
Edward. Semua orang merasa cerita Edward seru. Semua menganggap Edward orang
hebat.
Meskipun
demikian, ada satu orang yang menganggap Edward super payah alias cuma Tukang
Bual. Orang itu adalah anaknya sendiri, Will.
Karena
terlalu lama muak , Will pernah tidak berbicara sama sekali dengan ayahnya
selama 3 tahun… sampai suatu hari Ibunya mengabarkan bahwa Edward sekarat, lalu
wafat, dan Will berubah pendapat. Namun,
pada akhirnya semuanya terlambat.
Di hari
kematiannya, Will sadar bahwa Edward betul-betul pria yang luar biasa.
***
Memadukan
drama keluarga dan petualangan, Big Fish (2003), besutan Tim Burton yang
diangkat dari novel Daniel Wallace berjudul sama, bagi saya adalah salah satu
film exceptional. Bintang sembilan dari
sepuluh. Saya gak habis pikir orang bisa bikin cerita seperti itu. Bisa menggambarkan hubungan ayah dan anak dengan baik, juga membuat ilustrasi petualangan yang seru. Meskipun kemarin
saya nontonnya sepotong-potong karena ngantuk, gak fokus, dan selalu sambil
ngerjain sesuatu. Tapi tetep aja, luar biasa. Entah kenapa, di akhirnya bikin banjir-ingus.
Saya
gak tahu kenapa.
Mungkin
karena saya merasa sering berada di posisi Will, sering muak kepada Bapak. (Padahal saya gak benar2 tahu apa yang Beliau
alami.)
Mungkin
juga karena saya ingat ketika menemani kakek saya meninggal. Persis seperti di Big Fish, saya
hanya berdua saja dengan kakek saya saat itu.
Mungkin
karena saya takut dan belum siap mati.
… entah
ya.
Pokoknya
sejak itu, saya mikirin kematian-tentang seseorang yang mati: bagaimana ia
mati, dan tentang hidupnya: bagaima ia semasa hidup.
Yang
jelas, saya ingin hidup dan mati seperti kakek saya dan Edward: membuat cerita
sederhana jadi luar biasa, punya imajinasi selangit, dan mati sambil bergenggaman
tangan dengan orang-orang yang saya sayangi.
Dan
satu lagi, kalau saya boleh benar-benar menginginkan sesuatu kali ini,
Saya
ingin di upacara pemakaman saya nanti, jadi ajang melantunkan doa-doa baik, temu
kangen, cipika-cipiki, cengar-cengir, dan kumpul peluk para pelayat.
Tapi…
Mungkin
gak ya begitu?
*kemudian
teringat kelakuan saya
yang bajingan
dan
sering nyakitin orang lain.

Comments
Post a Comment