#1 Demi menikah?

Or be just like Birkin et Gainsbourg?

Seorang teman bertanya kepada saya di sebuah perjalanan kereta menuju Solo di tahun 2011: “Apakah kamu memimpikan menikah? Seperti banyak perempuan lainnya, yang memimpikan menikah?”

Tidak butuh banyak waktu, mudah sekali bagi saya menjawab pertanyaan itu: seperti nyaris semua anak perempuan di dunia yang kebanyakan (atau setidaknya, pernah) nonton telenovela atau dongeng pengantar tidur—ya, saya bermimpi suatu saat nanti menikah.

Teman saya lalu diam. Saya tidak yakin saat itu apakah dia  kecewa atas jawaban saya, atau hanya sekadar berpikir.

Beberapa kalimat lanjutan atas jawaban dari pertanyaannya, keluar dari mulut saya yang menyatakan bahwa saya tidak akan pernah menganggap menikah sebagai suatu pencapaian. Apalagi kewajiban. Sama seperti memutuskan lanjut sekolah sampai jadi sarjana atau cuma lulus smp.

Meskipun menikah itu salah satu mimpi saya. Dan meskipun menikah hanyalah konsep buatan manusia semata yang mengundang selera. Dan meskipun saya yakin bahwa Tuhan saya tidak menciptakan manusia-Nya untuk hidup, semata-mata, hanya demi menikah.

Saat itu, saya sudah cukup  banyak belajar bahwa mimpi tidak diciptakan agar pasti menjadi kenyataan. Oleh karena itu, saya jarang terlalu gila menginginkan sesuatu. Apalagi menginginkan setiap mimpi jadi kenyataan.

Jadi, ketika di usia dua puluhan dan undangan pernikahan teman mulai berdatangan, selain senang karena teman menikah, tidak ada perasaan ingin banget atau ingin sekali bagi saya untuk ikut menikah. Hanya sekadar ingin. Tidak seperti kebelet berak mencret.

Menikah bagi saya seperti melihat MacBook Air, kepengin tapi tidak pengin2 banget.

Membayangkan menikah entah kenapa rasanya seperti menonton sebuah film kesukaan yang diputar berulang-ulang. Ada perasaan bosan, tetapi tetap antusias. Ada perasaan sudah tahu, tapi tetap penasaran. Ada perasaan malas, tetapi tetap kepingin. Ada perasaan takut, tapi tetap senang.


Mungkin terkesan saya peragu atau pesimistis. Saya tidak tahu. Yang jelas akhir-akhir ini, saya jarang berusaha mengelompokkan beberapa hal untuk ada di kutub mana. Positif atau negatif. Selatan atau utara. Benar atau salah.


Begitu juga soal menikah: saya tidak pernah mengelompokkannya ke suatu hal yang benar-benar saya ingin atau tidak ingin lakukan.


Yang saya tahu, ketika suatu saat saya telah memutuskan sesuatu, seperti contohnya menikah, saya ingin bertanggung jawab untuk melanggengkannya, menghidupinya, dan menyelesaikannya dengan baik—terlepas dari apakah sebelumnya, hal itu, benar-benar saya inginkan atau benar-benar tidak saya inginkan.

Dan ketika saya memutuskan untuk tidak menikah, saya juga akan memulainya dengan baik dan menamatkannya dengan tidak kalah baik.

Comments