Ide terlintas dari ajakan Yulvi untuk
menulis keseharian, dan dari tulisan
Firdhan yang sangat apik di hari kedua inisiatif ini.
Bagi saya, menulis cerita tentang
keseharian diri sendiri itu sulit luar biasa. Bahkan mustahil. Apalagi kumpulan
keseharian sendiri atau autobiografi lantaran saya baru sampai di level penulis
diari.
Bagi saya, cerita keseharian akan lebih
mengungkap siapa sesungguhnya saya apabila (sebaiknya) cerita itu ditulis oleh
bukan saya sendiri. Mungkin bagi orang lain tidak. Orang lain bisa menulis
cerita keseharian mereka sendiri dengan jujur, penuh perhatian, dan perasaan. Namun saya,
sepertinya cuma berbakat ngarang-ngarang cerita. Tidak bisa (meskipun ingin)
menulis median dari kumpulan keseharian saya selama ini. Ada tendensi untuk menulis yang paling baik
dari beberapa keseharian saya. Ujung-ujungnya dilebih-lebihkan dan mengambil
sudut pandang ingin kelihatan bagusnya ajah (dalam menjalani hari-harinya). He
he.
Tapi baiklah, saya akan bercerita
tentang ke-se-ha-ri-an.
Saya menganggap cerita keseharian
sebagai potongan diri seseorang dalam kurun satu kali dua puluh empat jam. Tidak bisa lebih. Namun, boleh kurang.
Jujur selama (kurang lebih) dua puluh
enam tahun hidup ini, dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, saya
merasa mayoritas keseharian saya seperti selalu dikejar-kejar anjing gila alias
kurang waktu. Tegang. Seringnya.
Mungkin penyebab saya merasa begitu
karena saya kurang disiplin. Padahal banyak kok orang yang dengan mulus bisa
bekerja sambil kuliah (dan tentunya dengan hasil maksimal). Bahkan beberapa di
antara mereka ada yang sukses kerja, kuliah, dan melakukan berbagai inisiatif
lain dengan hasil yang memuaskan.
Kadang ketidakdisiplinan saya diperparah
dengan mengeluh dan mikir negatif duluan. Padahal ngeluh hanya bikin jatah
waktu berkurang jauh. Dan mikir negatif bikin energi gampang habis karena otak
jadi pasif ketika mencari solusi atas hal-hal di luar rencana yang ada-ada
ajaaaaaaaaaaa dan bikin uring-uringan.
Untungnya selama setahun ini saya
dikelilingi manusia-manusia luar biasa. Ibu yang selalu mengingatkan untuk
ikhlas. Dia yang sabar mendengar keluhan
saya yang menganjing-buta. Dan sahabat-sahabat yang meluangkan waktu menurunkan
kadar ketegangan dengan celoteh ngalor ngidulnya.
Tanpa mereka, kenikmatan duniawi ini
niscaya jadi bala dan bala jadi neraka.
Asli!
Kembali ke soal keseharian satu tahun
belakangan ini.
(Bersiaplah untuk bosan membaca tulisan
selanjutnya)
Sama seperti manusia lain, saya diberi
dua puluh empat jam dalam sehari. Itu biasanya saya pakai untuk tidur
(rata-rata 5-7 jam), ngayal2-nonton-baca-brosing2-ibadah (1-3 jam),
ngobrol-sosmed (1- 2 jam), buang air-makan-mandi (1-2 jam), ngerjain tugas (2-4
jam), kerja (6-8 jam), dan perjalanan
(4-5 jam).
Saya ngerasa waktu yang saya punya
setiap harinya terbatas. Contoh, perjalanan dari rumah ke kantor (Bogor-Jakarta)
rata-rata makan waktu 4 jam sehari (bolak-balik) dengan rincian dalam satu kali
jalan: 45 menit kereta, 1 jam angkot, dan 15 menit jalan kaki dari depan
komplek ke rumah hehe. Di kereta, alih-alih baca buku atau dengerin podcast
dari HP (yang sebenarnya sudah saya isi dengan TEDtalks atau BBCpodcasts
hahahai), atau browsing-browsing laman berfaedah lainnya, biasanya saya malah
tidur sambil nganga. Puji syukur Ilahi Robbi dalam waktu hampir dua tahun ini,
saya jarang loh ketiduran alias kelewatan stasiun.
Saya berangkat dari rumah lazimnya jam
tujuh atau setengah tujuh pagi. Sampai kantor jam sembilan atau setengah
sembilan pagi. Habis itu selama delapan jam selanjutnya saya kerja… berhenti
buat istirahat makan-solat-nongkrongin temen sebentar dan entah kenapa jarang
banget browsing2. Apalagi waktu di admin-HR, padat merayap, kadang baru selesai
jam tujuh malam. Untung kalau sakadar bales-bales
chat orang masih bisa lah yha.
Berhubung masih kuliah, selama hampir satu setengah tahun itu saya
biasanya nyempet2in untuk ngerjain tesis atau tugas kuliah. Soalnya kalau
ngerjainnya habis pulang kantor… gila capek udah gak napsu, dan seandainya
napsu juga, pasti ngantukan karena biasanya baru sampai rumah jam sembilan
malam. Dan rentang waktu atau konsentrasi saya buat nulis atau belajar jujur
aja berkurang. Artinya saya gak bisa tiga jam berturut-turut ngerjain tesis.
Satu jam aja kadang sudah gak konsen pengin buka sosmed atau buzzfeedan atau
boredpanda atau yutub atau brosing2 gak keruan.
Akhirnya, saya paksa-paksain habis
pulang kantor minimal satu jam lah baca or ngerjain sesuatu, minimal rapihin
margin kanan-kiri kalau udah gak ada ide mau nulis apa. Musti banget dikerjain
tesis/tugas kuliah itu, karena kalau enggak, besoknya saya cranky banget di
kantor dan ngerasa bersalah. Artinya mending kurang tidur daripada gak ngerjain
tugas.
Jadi, dalam sehari biasanya saya
belajar atau nesis dua sampai empat jam (tapi rata-rata dua jam sih sehari
hiks). Yang jelas dan pasti dilakukan, waktu belajar/nugas/nesis adalah sbb:
satu jam setelah pulang kantor (dari jam sepuluh sampai sebelas malam) lalu
pagi-pagi banget selama satu jam sebelum ngantor (jam tiga sampai empat pagi).
Dan setelah jam empat pagi itu biasanya saya tidur lagi. Bangun jam enam pagi,
lalu siap2 cus ngantor jam tujuh. Begitu sampai kantor kalau gak ada apa-apa
alias gak ada yang urgent, saya colongan 30 menitan atau sejam ngerjain tesis
sebentar karena otak masih fresh banget (tapi
biasanya ini jarang banget yah kakak… mengingat sebagai kroco solehah selalu
dirong2 orang untuk ngerjain ini itu di kantor).
Kadang waktu istirahat siang saya ambil
setengah jam buat rapih2in tulisan. Lalu jam tiga sampai empat sore juga saya
pakai buat nulis untuk kemudian lanjut kerja lagi. Dan biasanya kalau begitu
saya pulang lebih malam dari kantor. Saya tahu banget rentang konsentrasi saya
gak bisa panjang buat nesis atau nugas kuliah (karena bagi saya tugas kuliah itu susah dibandingkan kerjaan/job desc saya di kantor saat itu). Jadi, saya pecah-pecah
waktu mengerjakan tugas kuliah alias diselip-selipin di jam kantor. Tapi dengan
konsekuensi, saya di kantor jadi harus berada lebih lama alias baru bisa keluar
jam tujuh atau delapan malam (normalnya keluar kantor jam lima sore) untuk
menuntaskan tasks kantor.
Tuhan Maha Adil. Tapi saya mungkin
tidak. Tuhan berbaik hati menjatahkan saya
dua puluh empat jam cuma-cuma. Tapi sejujurnya saya khawatir banget
karena waktu saya banyak habis di kantor. Saya sering kok merasa sakit. Jadi, berdoa
supaya apa yang dilakukan di kantor gak sia-sia bagi saya adalah obat yang mujarab banget. Saya makin ansos karena enggak punya banyak waktu untuk sosialisasi
sama orang. Tapi sebenarnya gak masalah banget sih hehe. Untuk urusan
sosialisasi sama manusia lain: bukan soal kuantitas. Ditambah kebutuhan
bayar atau pengin jajan ini-itu juga mendesak dan udah males banget minta sama
ortu. Saya juga lagi belajar nabung dan pengin pindah dari cuma punya reksadana
ke properti muahaha…
Jadi,
(untuk sekarang) gak masalah-lah ya kerja lebih dari delapan jam sehari...
Kadang Sabtu-Minggu saya pakai untuk
kumpul keluarga atau ketemu teman-teman dekat. Penginnya sih lebih sering iseng
ikut kegiatan komunitas biar ketemu sama orang baru dan wawasan nambah (tapi karena
kuliah, ini juga jarang banget karena saya biasanya lebih milih di rumah aja
deh, ngumpulin energi dengan tidur atau baca).
Soal hiburan: Jakarta menawarkan
berbagai macam acara dan hiburan seru di akhir pekan. Tapi berhubung saya
tinggal di Bogor, biasanya saya malas Sabtu-Minggu ke Jakarta. Penginnya tidur,
leyeh2, nonton film, atau kalau pergi pun paling di sekitaran rumah. Weekend saya
pakai buat ngerjain tugas lagi, tapi kebanyakan sih saya pakai buat istirahat
atau melakukan hobi untuk menjaga kewarasan.
Puaskah dengan keseharian yang gitu2
aja?
Yah, lumayan. Setidaknya saya jadi
tidak punya waktu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, lalu
iri gak jelas. Apalagi di era sosmed seperti ini. Penuh kepikahayang dan...
muslihat semata.
Yang serba pasti adalah, bahwa orang
yang kelihatan leyeh-leyeh, itu sebenarnya yang paling struggling dan orang
yang kelihatannya gampang mencapai sesuatu itu perjuangannya memang maha
dahsyat.
Lalu, apakah ada yang perlu diubah dari
keseharian saya?
Mungkin soal alokasi waktu,
mudah-mudahan kelak semakin bisa: kumpul
keluarga, beberes rumah, banyak nulis/baca, mengolah makanan sendiri, olah-raga,
dan ngayal!
Itu aja.
Semoga tercapai dan sekian tulisan saya
yang membosankan hari ini. Selamat tidur!
Comments
Post a Comment