#3 Ke-se-ha-ri-an

Ide terlintas dari ajakan Yulvi untuk menulis keseharian, dan  dari tulisan Firdhan yang sangat apik di hari kedua inisiatif ini.

Bagi saya, menulis cerita tentang keseharian diri sendiri itu sulit luar biasa. Bahkan mustahil. Apalagi kumpulan keseharian sendiri atau autobiografi lantaran saya baru sampai di level penulis diari.

Bagi saya, cerita keseharian akan lebih mengungkap siapa sesungguhnya saya apabila (sebaiknya) cerita itu ditulis oleh bukan saya sendiri. Mungkin bagi orang lain tidak. Orang lain bisa menulis cerita keseharian mereka sendiri dengan jujur,  penuh perhatian, dan perasaan. Namun saya, sepertinya cuma berbakat ngarang-ngarang cerita. Tidak bisa (meskipun ingin) menulis median dari kumpulan keseharian saya selama ini.  Ada tendensi untuk menulis yang paling baik dari beberapa keseharian saya. Ujung-ujungnya dilebih-lebihkan dan mengambil sudut pandang ingin kelihatan bagusnya ajah (dalam menjalani hari-harinya). He he.

Tapi baiklah, saya akan bercerita tentang ke-se-ha-ri-an.

Saya menganggap cerita keseharian sebagai potongan diri seseorang dalam kurun satu kali dua puluh empat jam.  Tidak bisa lebih. Namun, boleh kurang. 

Jujur selama (kurang lebih) dua puluh enam tahun hidup ini, dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, saya merasa mayoritas keseharian saya seperti selalu dikejar-kejar anjing gila alias kurang waktu. Tegang. Seringnya.

Mungkin penyebab saya merasa begitu karena saya kurang disiplin. Padahal banyak kok orang yang dengan mulus bisa bekerja sambil kuliah (dan tentunya dengan hasil maksimal). Bahkan beberapa di antara mereka ada yang sukses kerja, kuliah, dan melakukan berbagai inisiatif lain dengan hasil yang memuaskan.

Kadang ketidakdisiplinan saya diperparah dengan mengeluh dan mikir negatif duluan. Padahal ngeluh hanya bikin jatah waktu berkurang jauh. Dan mikir negatif bikin energi gampang habis karena otak jadi pasif ketika mencari solusi atas hal-hal di luar rencana yang ada-ada ajaaaaaaaaaaa dan bikin uring-uringan.

Untungnya selama setahun ini saya dikelilingi manusia-manusia luar biasa. Ibu yang selalu mengingatkan untuk ikhlas. Dia yang sabar mendengar  keluhan saya yang menganjing-buta. Dan sahabat-sahabat yang meluangkan waktu menurunkan kadar ketegangan dengan celoteh ngalor ngidulnya.

Tanpa mereka, kenikmatan duniawi ini niscaya jadi bala dan bala jadi neraka.

Asli!

Kembali ke soal keseharian satu tahun belakangan ini.

(Bersiaplah untuk bosan membaca tulisan selanjutnya)

Sama seperti manusia lain, saya diberi dua puluh empat jam dalam sehari. Itu biasanya saya pakai untuk tidur (rata-rata 5-7 jam), ngayal2-nonton-baca-brosing2-ibadah (1-3 jam), ngobrol-sosmed (1- 2 jam), buang air-makan-mandi (1-2 jam), ngerjain tugas (2-4 jam),  kerja (6-8 jam), dan perjalanan (4-5 jam).

Saya ngerasa waktu yang saya punya setiap harinya terbatas. Contoh, perjalanan dari rumah ke kantor (Bogor-Jakarta) rata-rata makan waktu 4 jam sehari (bolak-balik) dengan rincian dalam satu kali jalan: 45 menit kereta, 1 jam angkot, dan 15 menit jalan kaki dari depan komplek ke rumah hehe. Di kereta, alih-alih baca buku atau dengerin podcast dari HP (yang sebenarnya sudah saya isi dengan TEDtalks atau BBCpodcasts hahahai), atau browsing-browsing laman berfaedah lainnya, biasanya saya malah tidur sambil nganga. Puji syukur Ilahi Robbi dalam waktu hampir dua tahun ini, saya jarang loh ketiduran alias kelewatan stasiun.

Saya berangkat dari rumah lazimnya jam tujuh atau setengah tujuh pagi. Sampai kantor jam sembilan atau setengah sembilan pagi. Habis itu selama delapan jam selanjutnya saya kerja… berhenti buat istirahat makan-solat-nongkrongin temen sebentar dan entah kenapa jarang banget browsing2. Apalagi waktu di admin-HR, padat merayap, kadang baru selesai jam tujuh malam.  Untung kalau sakadar bales-bales chat orang masih bisa lah yha.

Berhubung masih kuliah,  selama hampir satu setengah tahun itu saya biasanya nyempet2in untuk ngerjain tesis atau tugas kuliah. Soalnya kalau ngerjainnya habis pulang kantor… gila capek udah gak napsu, dan seandainya napsu juga, pasti ngantukan karena biasanya baru sampai rumah jam sembilan malam. Dan rentang waktu atau konsentrasi saya buat nulis atau belajar jujur aja berkurang. Artinya saya gak bisa tiga jam berturut-turut ngerjain tesis. Satu jam aja kadang sudah gak konsen pengin buka sosmed atau buzzfeedan atau boredpanda atau yutub atau brosing2 gak keruan.

Akhirnya, saya paksa-paksain habis pulang kantor minimal satu jam lah baca or ngerjain sesuatu, minimal rapihin margin kanan-kiri kalau udah gak ada ide mau nulis apa. Musti banget dikerjain tesis/tugas kuliah itu, karena kalau enggak, besoknya saya cranky banget di kantor dan ngerasa bersalah. Artinya mending kurang tidur daripada gak ngerjain tugas.

Jadi, dalam sehari biasanya saya belajar atau nesis dua sampai empat jam (tapi rata-rata dua jam sih sehari hiks). Yang jelas dan pasti dilakukan, waktu belajar/nugas/nesis adalah sbb: satu jam setelah pulang kantor (dari jam sepuluh sampai sebelas malam) lalu pagi-pagi banget selama satu jam sebelum ngantor (jam tiga sampai empat pagi). Dan setelah jam empat pagi itu biasanya saya tidur lagi. Bangun jam enam pagi, lalu siap2 cus ngantor jam tujuh. Begitu sampai kantor kalau gak ada apa-apa alias gak ada yang urgent, saya colongan 30 menitan atau sejam ngerjain tesis sebentar  karena otak masih fresh banget (tapi biasanya ini jarang banget yah kakak… mengingat sebagai kroco solehah selalu dirong2 orang untuk ngerjain ini itu di kantor).

Kadang waktu istirahat siang saya ambil setengah jam buat rapih2in tulisan. Lalu jam tiga sampai empat sore juga saya pakai buat nulis untuk kemudian lanjut kerja lagi. Dan biasanya kalau begitu saya pulang lebih malam dari kantor. Saya tahu banget rentang konsentrasi saya gak bisa panjang buat nesis atau nugas kuliah (karena bagi saya  tugas kuliah itu susah  dibandingkan kerjaan/job desc  saya di kantor saat itu). Jadi, saya pecah-pecah waktu mengerjakan tugas kuliah alias diselip-selipin di jam kantor. Tapi dengan konsekuensi, saya di kantor jadi harus berada lebih lama alias baru bisa keluar jam tujuh atau delapan malam (normalnya keluar kantor jam lima sore) untuk menuntaskan tasks kantor.


Tuhan Maha Adil. Tapi saya mungkin tidak. Tuhan berbaik hati menjatahkan saya  dua puluh empat jam cuma-cuma. Tapi sejujurnya saya khawatir banget karena waktu saya banyak habis di kantor. Saya sering kok merasa sakit. Jadi, berdoa supaya apa yang dilakukan di kantor gak sia-sia bagi saya adalah obat yang mujarab banget. Saya makin ansos karena enggak punya banyak waktu untuk sosialisasi sama orang. Tapi sebenarnya gak masalah banget sih hehe. Untuk urusan sosialisasi sama manusia lain: bukan soal kuantitas. Ditambah kebutuhan bayar atau pengin jajan ini-itu juga mendesak dan udah males banget minta sama ortu. Saya juga lagi belajar nabung dan pengin pindah dari cuma punya reksadana ke properti muahaha…

 Jadi, (untuk sekarang) gak masalah-lah ya kerja lebih dari delapan jam sehari...

Kadang Sabtu-Minggu saya pakai untuk kumpul keluarga atau ketemu teman-teman dekat. Penginnya sih lebih sering iseng ikut kegiatan komunitas biar ketemu sama orang baru dan wawasan nambah (tapi karena kuliah, ini juga jarang banget karena saya biasanya lebih milih di rumah aja deh, ngumpulin energi dengan tidur atau baca).

Soal hiburan: Jakarta menawarkan berbagai macam acara dan hiburan seru di akhir pekan. Tapi berhubung saya tinggal di Bogor, biasanya saya malas Sabtu-Minggu ke Jakarta. Penginnya tidur, leyeh2, nonton film, atau kalau pergi pun paling di sekitaran rumah. Weekend saya pakai buat ngerjain tugas lagi, tapi kebanyakan sih saya pakai buat istirahat atau melakukan hobi untuk menjaga kewarasan.

Puaskah dengan keseharian yang gitu2 aja?

Yah, lumayan. Setidaknya saya jadi tidak punya waktu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, lalu iri gak jelas. Apalagi di era sosmed seperti ini. Penuh kepikahayang dan... muslihat semata.

Yang serba pasti adalah, bahwa orang yang kelihatan leyeh-leyeh, itu sebenarnya yang paling struggling dan orang yang kelihatannya gampang mencapai sesuatu itu perjuangannya memang maha dahsyat.

Lalu, apakah ada yang perlu diubah dari keseharian saya?

Mungkin soal alokasi waktu, mudah-mudahan kelak semakin bisa:  kumpul keluarga, beberes rumah, banyak nulis/baca, mengolah makanan sendiri, olah-raga, dan ngayal!

Itu aja.

Semoga tercapai dan sekian tulisan saya yang membosankan hari ini. Selamat tidur!


Comments