Diam-diam
saya menoleh lagi dan melihat punggung itu menjauh dan semakin jauh.
Lima
belas menit lutut saya kaku. Dua puluh menit hati terasa ngilu. Tapi dalam tiga
puluh menit langkah saya kembali ringan. Membalik badan. Berjalan sendirian. Lalu
berpelukan dengan teman-teman, lalu lupa betapa sakitnya penolakan barusan.
Mencintai
bukan hal yang mudah. Apalagi tanpa ekspektasi. Namun itu pikiran saya delapan
tahun yang lalu. Terima kasih kepada orang yang membalikkan badan di depan mata
saya. Terima kasih atas kudapannya. Saya jadi kenyang tapi tetap merasa seksi
dan langsing. Enak! Semua terasa longgar!
Ketika
mencintai. Berhenti sampai di situ. Perihal yang dicinta mencintai balik bukan
urusan saya. Kalau mikirin harus segala
berbalik, bisa segera mati jiwa ini.
Bisa kesurupan! Kasihan orangtua yang kasih saya makan dan baju bagus-bagus.
Mereka ingin anaknya bahagia, bukan melihat anaknya mampus.
Saat
melihat punggungnya menjauh. Memang hati sedih. Tapi, balikanlah badan dan lihat
di depan ada beberapa pasang tangan yang siap menangkap saya jatuh. Cinta yang
ranum dan harum. Buat apa jauh-jauh? Apalagi yang bergerak terlampau menjauh?
Saat
melihat punggungnya menjauh. Saya mikir ngapain dipikirin. Jelas-jelas arah dan
tujuan beda. Berteriak sekuat tenaga pun, tidak mungkin ia akan mendengar.
Bukan satu jurusan, ngapain maksa naik kereta yang sama?
Saat
melihat punggungnya menjauh. Cahaya matahari sore pulang untuk sembahyang. Sebelum
adzan berkumandang, terdengar sang cahaya matahari berdoa: semoga si punggung
yang menjauh menemukan hangat pelukannya. Dan dia yang mengamati diam-diam si
punggung yang menjauh senantiasa dicintai dalam peraduannya.

Comments
Post a Comment