Punggung yang Saling Menjauh



(Image/dok. from: zsazsabellagio.tumblr.com )

Diam-diam saya menoleh lagi dan melihat punggung itu menjauh dan semakin jauh.

Lima belas menit lutut saya kaku. Dua puluh menit hati terasa ngilu. Tapi dalam tiga puluh menit langkah saya kembali ringan. Membalik badan. Berjalan sendirian. Lalu berpelukan dengan teman-teman, lalu lupa betapa sakitnya penolakan barusan.

Mencintai bukan hal yang mudah. Apalagi tanpa ekspektasi. Namun itu pikiran saya delapan tahun yang lalu. Terima kasih kepada orang yang membalikkan badan di depan mata saya. Terima kasih atas kudapannya. Saya jadi kenyang tapi tetap merasa seksi dan langsing. Enak! Semua terasa longgar!

Ketika mencintai. Berhenti sampai di situ. Perihal yang dicinta mencintai balik bukan urusan saya. Kalau  mikirin harus segala berbalik, bisa segera mati  jiwa ini. Bisa kesurupan! Kasihan orangtua yang kasih saya makan dan baju bagus-bagus. Mereka ingin anaknya bahagia, bukan melihat  anaknya mampus.

Saat melihat punggungnya menjauh. Memang hati sedih. Tapi, balikanlah badan dan lihat di depan ada beberapa pasang tangan yang siap menangkap saya jatuh. Cinta yang ranum dan harum. Buat apa jauh-jauh? Apalagi yang bergerak terlampau menjauh?

Saat melihat punggungnya menjauh. Saya mikir ngapain dipikirin. Jelas-jelas arah dan tujuan beda. Berteriak sekuat tenaga pun, tidak mungkin ia akan mendengar. Bukan satu jurusan, ngapain maksa naik kereta yang sama?


Saat melihat punggungnya menjauh. Cahaya matahari sore pulang untuk sembahyang. Sebelum adzan berkumandang, terdengar sang cahaya matahari berdoa: semoga si punggung yang menjauh menemukan hangat pelukannya. Dan dia yang mengamati diam-diam si punggung yang menjauh senantiasa dicintai dalam peraduannya.

Comments