Di malam yang tidak begitu
melelahkan, salah satu teman di satu grup wasap share artikel mengenai antusiasme anak muda sekarang untuk tidak
memiliki apa pun kecuali pengalaman. Saya
setuju dengan pendapat itu. Jaman sekarang, tidak lagi kita mendefinisikan kenikmatan
atau kesuksesan sebagai: rumah besar,
mobil mewah, atau setumpuk pakaian rajutan disainer kenamaan.
Saya setuju dan menganggap itu hal
yang wajar. Setuju karena seluruh kata di muka bumi ini akan bergeser maknanya.
Tak luput juga makna kesuksesan, yang
ikut ‘bergeser’ hingga beberapa derajat. Kesuksesan demikian itu, hanya milik generasi di atas kami,
generasi yang sering dinegasikan dengan istilah baby boomer atau generasi X, yang mayoritasnya mengidentifikasikannya
sebagai: punya pekerjaan tetap dan jenjang karir yang meningkat.
Saya percaya bahwa gaya hidup,
selera, dan cara pandang setiap generasi tidak bisa dikloning ke generasi
selanjutnya. Biar bagaimanapun generasi selanjutnya hanya mewarisi sebagian
kecil sifat dari generasi sebelumnya.
Saya melihat hal itu: setuju sampai seratus dua puluh persen.
Dari diskusi kecil itu, perbincangan menghangat dan ada
beberapa celetukan dari teman sesama milenial saya:
karena ingin pindah-pindah
tempat tinggal, maka tidak harus punya properti.
Lalu beberapa mengamini kalimat itu.
Saya sedikit tergelitik dengan kalimat itu yang entah
mengapa bagi saya sangat rancu. Bagi saya kalimat itu bukan sebab dan akibat.
Bahkan tidak ada sangkut pautnya.
Saya baru tahu bahwa beberapa dari mereka mengidentifikasikan
properti sebagai rumah tinggal (untuk menetap). Beberapa di antara mereka memercayai
pengalaman sebagai pindah-pindah tempat tinggal. Makna pengalaman mengalami spesialisasi,
menyempit sedemikian rupa (bahkan saya menganggap ini nyaris peyorasi-penurunan makna).
Memiliki properti bukan memiliki rumah tinggal. Oleh karena
itu, properti bukan rumah tinggal. Properti sendiri bisa berupa sebidang tanah
atau rumah tinggal. Tetapi rumah tinggal belum tentu menjadi properti sendiri.
Sejujurnya saya menyayangkan kalimat itu terlontar dari
beberapa yang punya pengalaman internasional (Eh tapi ini saya sama seperti
mereka juga ya: membuat implikasi salah). Pemikiran seperti itu ternyata tidak
ada sangkut pautnya dari apakah orang-orang tersebut pernah belajar – bergaul
di luar negeri, berpendidikan tinggi, atau tidak.
Saya lalu mencoba menghubungkan mengapa pemikiran seperti
itu muncul dan terlontar lugas penuh digdaya dari mereka. Dan akhirnya saya menyadari (dan jadi
maklum), bahwa persamaan dari mereka yang melontarkan kalimat seperti itu
adalah mereka, rekan sesama milenial, yang punya ‘donor’ tetap, alias mendapat
suntikan dari beberapa ‘investor‘ tetap dengan cuma-cuma alias tanpa usaha. Sehingga
bagi mereka, properti adalah rumah
tinggal (yang harus ditinggali).
Entah kebetulan atau
bukan, mereka masih berstatus mahasiswa dan dari keluarga yang cukup berada.
(Lalu terpikir jangan-jangan mereka menganggap properti adalah orang tua mereka?
Hehe
Ada satu klise mengenai kemapanan yang saya rangkum dari
berbagai pemikiran di atas. Klise ini saya buat sebagai derifat dari klise generasi
sebelumnya (yang saya yakini relevan bagi saya, tapi belum tentu relevan untuk
teman segenarasi saya lainnya): bahwa kemapanan bukanlah pekerjaan tetap.
Kemapanan adalah penghasilan tetap. Kesuksesan bukan jenjang karir yang
meningkat, melainkan jejaring informasi baru yang konsisten bertambah memenuhi
lobus memori kita. Jejaring itu terus bertambah dan akhirnya memengaruhi
perasaan dan tindak tanduk kita dalam usaha memperbaiki apa yang salah dan
mencari kebenaran itu.
*Tulisan ini saya buat di bulan Juni 2016. Saat terlalu sering dan asyik berdiskusi dengan orang-orang yang tidak banyak sepakat dengan saya. Saat itu terasa menyenangkan.

Comments
Post a Comment